Di antara rimbunnya pepohonan dan sejuknya udara kaki Gunung Arjuno, tersembunyi sebuah peninggalan suci yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Candi Sumberawan Malang, yang terletak di wilayah Singosari, Kabupaten Malang, bukan sekadar bangunan batu tua, melainkan saksi bisu perjalanan panjang peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur. Berbeda dengan candi-candi lain yang umumnya berbentuk bangunan berrelief dan berarca, Candi Sumberawan tampil unik sebagai sebuah stupa, simbol pencerahan dalam ajaran Buddha.
Letak Geografis dan Akses Lokasi
Candi Sumberawan berada di Desa Toyomerto, Kecamatan Singosari, sekitar 6 kilometer dari pusat Kecamatan Singosari dan kurang lebih 15 kilometer dari Kota Malang. Lokasinya berada di kawasan hutan lindung Perhutani, pada ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai situs ini, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang dikelilingi pepohonan pinus dan bambu, menciptakan suasana hening yang terasa sakral.
Nama “Sumberawan” sendiri berasal dari kata “sumber” yang berarti mata air, dan “rawan” atau “rawan” yang dalam konteks kuno sering dikaitkan dengan istilah “arwana” atau “air kehidupan”. Tak jauh dari bangunan candi memang terdapat sumber mata air alami yang hingga kini tetap mengalir jernih.
Sejarah dan Latar Belakang Pembangunan
Candi Sumberawan diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Singhasari, sekitar abad ke-13 Masehi. Beberapa sejarawan mengaitkannya dengan masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana atau putranya, Kertanegara, yang dikenal sebagai raja dengan pandangan sinkretis antara ajaran Hindu Siwa dan Buddha Tantrayana.
Keunikan Candi Sumberawan terletak pada bentuknya yang menyerupai stupa, bukan candi Hindu pada umumnya. Hal ini menunjukkan bahwa situs ini kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat pemujaan Buddha atau sebagai tugu peringatan suci (dharmastupa). Dalam kitab Negarakertagama, disebutkan adanya tempat suci bernama “Kasurangganan” yang digambarkan sebagai taman surgawi dengan mata air, dan banyak ahli menduga bahwa tempat ini merujuk pada kawasan Sumberawan.
Arsitektur dan Struktur Bangunan
Secara fisik, Candi Sumberawan Malang berbentuk stupa tunggal yang berdiri di atas batur persegi. Tingginya sekitar 5 meter dengan diameter dasar sekitar 6 meter. Bangunan ini tersusun dari batu andesit tanpa relief naratif, memperkuat kesan kesederhanaan sekaligus kesakralannya.
Bagian kaki candi berupa pelataran bertingkat yang melambangkan dunia manusia (kamadhatu), sementara tubuh stupa mencerminkan dunia bentuk (rupadhatu), dan puncaknya yang kini telah rusak melambangkan dunia tanpa bentuk (arupadhatu), sebuah konsep kosmologi Buddhis tentang tahapan menuju pencerahan.
Tidak ditemukannya arca di dalam bangunan menguatkan dugaan bahwa fungsi utama stupa ini adalah sebagai simbol, bukan sebagai tempat penyimpanan patung dewa.
Fungsi Spiritual dan Simbolisme Air
Keberadaan mata air di dekat candi bukanlah kebetulan. Dalam tradisi Hindu-Buddha, air melambangkan kesucian, kehidupan, dan penyucian batin. Sumber air di Sumberawan diyakini sebagai tirta amerta, air kehidupan yang dalam mitologi melambangkan keabadian dan kebijaksanaan.
Hingga kini, sebagian masyarakat masih menganggap kawasan ini sebagai tempat yang memiliki energi spiritual tinggi. Pada hari-hari tertentu, terutama saat peringatan Waisak, umat Buddha datang untuk melakukan ritual meditasi dan penghormatan.
Nilai Budaya dan Pariwisata
Candi Sumberawan bukan hanya situs sejarah, tetapi juga destinasi wisata budaya dan alam. Suasana sejuk, sunyi, dan alami menjadikannya tempat yang ideal untuk wisata reflektif, jauh dari hiruk-pikuk kota. Bagi peneliti sejarah dan arkeologi, candi ini menyimpan banyak pertanyaan terbuka tentang perkembangan aliran Buddha di Jawa Timur pada masa Singhasari.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan candi ini juga menjadi bagian dari identitas lokal yang harus dijaga. Upaya pelestarian dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Perhutani untuk menjaga keutuhan struktur serta kelestarian lingkungan hutan di sekitarnya.
Baca juga : Candi Kidal Malang
Penutup
Candi Sumberawan Malang adalah contoh bagaimana warisan masa lalu tidak selalu tampil megah dengan relief penuh cerita, tetapi justru memancarkan kekuatan dalam kesederhanaannya. Sebagai stupa yang berdiri sunyi di tengah hutan, ia mengajarkan makna kontemplasi, keseimbangan dengan alam, dan pencarian spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Mengunjungi Candi Sumberawan bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjalanan menyusuri jejak peradaban, menyerap ketenangan, dan merasakan harmoni antara sejarah, alam, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang Nusantara.






