Candi  

Candi Singosari Malang, Jejak Kejayaan Kerajaan Singhasari di Tanah Jawa Timur

Candi Singosari Malang

Candi Singosari Malang merupakan salah satu peninggalan bersejarah terpenting di Jawa Timur yang menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, candi ini tidak hanya menyimpan nilai arkeologis yang tinggi, tetapi juga memuat kisah politik, spiritual, dan budaya yang membentuk perjalanan peradaban Nusantara pada masa Hindu-Buddha.

Letak dan Lingkungan

Candi Singosari berada di dataran rendah yang dikelilingi kawasan pemukiman dan lahan pertanian. Lokasinya strategis karena berada di jalur utama Surabaya–Malang, sehingga mudah diakses oleh wisatawan maupun peneliti. Meskipun berada di tengah perkembangan modern, kawasan candi masih mempertahankan suasana tenang yang mendukung aktivitas ziarah sejarah dan studi arkeologi.

Latar Belakang Sejarah

Candi Singosari dibangun pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari yang berkuasa sekitar tahun 1268–1292 M. Kerajaan Singhasari sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tumapel, yang didirikan oleh Ken Arok setelah menumbangkan kekuasaan Kediri.

Raja Kertanegara dikenal sebagai penguasa visioner yang memperluas pengaruh Singhasari hingga ke luar Jawa melalui Ekspedisi Pamalayu ke Sumatra. Dalam bidang keagamaan, ia menganut ajaran sinkretisme Siwa-Buddha, yakni perpaduan antara Hindu aliran Siwa dan Buddha Tantrayana. Paham inilah yang kemudian tercermin dalam arsitektur dan simbol-simbol keagamaan di Candi Singosari.

Menurut para ahli, Candi Singosari didirikan sebagai candi pendharmaan untuk Raja Kertanegara setelah wafatnya. Artinya, candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan arwah raja yang dipandang telah bersatu dengan dewa, khususnya sebagai perwujudan Dewa Siwa-Buddha.

Baca juga :  Candi Badut Malang, Penanda Waktu, Penjaga Arah Spiritual Jawa Kuno

Arsitektur dan Struktur Bangunan

Secara arsitektural, Candi Singosari memiliki gaya khas Jawa Timur dengan bentuk bangunan yang ramping dan menjulang. Tinggi candi sekitar 15 meter, dibangun dari batu andesit dengan teknik susun yang presisi.

Bagian kaki candi tampak polos tanpa banyak relief, berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah seperti Borobudur atau Prambanan yang sarat ukiran. Kesederhanaan ini justru mempertegas kesan agung dan sakral. Tubuh candi berbentuk persegi dengan relung-relung di setiap sisi, yang dahulu kemungkinan diisi arca-arca dewa.

Di bagian atas, terdapat struktur atap bertingkat yang melambangkan Gunung Mahameru, gunung suci dalam kosmologi Hindu-Buddha sebagai tempat bersemayam para dewa. Puncak candi yang kini tidak utuh diperkirakan dahulu dihiasi stupa atau ratna sebagai simbol kesempurnaan spiritual.

Arca dan Unsur Ikonografi

Di sekitar Candi Singosari ditemukan beberapa arca penting, antara lain arca Dwarapala berukuran raksasa yang berfungsi sebagai penjaga kawasan suci. Arca ini menggambarkan sosok raksasa dengan ekspresi garang, memegang gada, dan duduk dalam posisi siap menjaga. Keberadaan Dwarapala menandakan bahwa kawasan ini dahulu merupakan kompleks sakral yang sangat dihormati.

Selain itu, ditemukan pula arca-arca yang berkaitan dengan ajaran Tantrayana, seperti arca Agastya, Ganesha, dan Durga. Unsur-unsur ini memperkuat dugaan bahwa Candi Singosari menjadi pusat pemujaan dengan latar sinkretisme Siwa-Buddha, sesuai dengan kepercayaan Raja Kertanegara.

Nilai Sejarah dan Budaya

Candi Singosari Malang tidak hanya penting sebagai monumen keagamaan, tetapi juga sebagai sumber informasi tentang dinamika politik Jawa pada abad ke-13. Dari sinilah dapat ditelusuri peralihan kekuasaan dari Singhasari ke Majapahit, yang dimulai setelah wafatnya Kertanegara akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri.

Runtuhnya Singhasari kemudian melahirkan Majapahit di bawah Raden Wijaya, menantu Kertanegara. Dengan demikian, Candi Singosari menjadi penghubung penting dalam rantai sejarah besar yang membawa Nusantara menuju masa keemasan di era Majapahit.

Baca juga :  Wisata Candi di Malang: Jejak Peradaban di Bumi Arema

Dari sisi budaya, candi ini mencerminkan tingkat kemajuan seni bangunan dan pemahaman kosmologi masyarakat Jawa kuno. Setiap elemen arsitektur mengandung makna simbolis tentang hubungan manusia, alam, dan dunia ketuhanan.

Candi Singosari sebagai Destinasi Wisata Sejarah

Saat ini, Candi Singosari menjadi salah satu tujuan wisata sejarah unggulan di Kabupaten Malang. Pengunjung dapat mempelajari langsung peninggalan Kerajaan Singhasari, mengamati detail bangunan, serta merasakan atmosfer spiritual yang masih terasa kuat.

Kawasan candi juga kerap dijadikan lokasi penelitian, kegiatan edukasi, dan kunjungan pelajar. Dengan pengelolaan yang terus ditingkatkan, Candi Singosari berpotensi menjadi pusat pembelajaran sejarah klasik Jawa Timur yang semakin dikenal luas.

Baca juga : Candi Badut Malang

Penutup

Candi Singosari Malang bukan sekadar bangunan batu dari masa lampau, melainkan monumen peradaban yang merekam kejayaan, konflik, dan spiritualitas Kerajaan Singhasari. Melalui arsitektur yang anggun, ikonografi yang sarat makna, serta latar sejarah yang menentukan arah Nusantara, candi ini layak dipandang sebagai salah satu warisan budaya paling berharga di Indonesia. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa tanah Malang pernah menjadi pusat kekuasaan besar yang jejaknya masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *